![]() |
| Hasanul Amri Juara Lomba Menulis Cerita Anak Tahun 2025 |
Banda Aceh — Suasana ruang pertemuan Balai Bahasa Provinsi Aceh tampak khidmat namun penuh kehangatan pada tahun 2025. Di ruangan yang dindingnya dipenuhi poster literasi, rak buku, serta spanduk bertuliskan “Pemenang Lomba Sayembara Menulis Balai Bahasa Provinsi Aceh Tahun 2025”, nama Hasanul Amri diumumkan sebagai juara Sayembara Menulis Cerita Anak melalui karyanya yang berjudul Toma Alek Kedang Misterius.
Pengumuman pemenang disampaikan langsung oleh panitia Balai Bahasa Provinsi Aceh dalam sebuah acara resmi yang dihadiri oleh jajaran pengelola balai bahasa, dewan juri, pegiat literasi, penulis, serta undangan dari berbagai komunitas pendidikan dan kebudayaan. Ruangan terasa hidup dengan tepuk tangan peserta saat nama Hasanul Amri disebut sebagai pemenang utama sayembara bergengsi tersebut.
Karya Toma Alek Kedang Misterius dinilai unggul karena berhasil memadukan kekuatan cerita anak dengan muatan lokal yang kental, bahasa yang komunikatif, serta pesan nilai karakter yang kuat. Dewan juri menilai cerita tersebut tidak hanya menarik bagi pembaca anak-anak, tetapi juga relevan sebagai bahan bacaan literasi yang mendukung penguatan budaya daerah dan imajinasi anak.
Dalam penilaian dewan juri, cerita ini menampilkan tokoh anak yang berani, ingin tahu, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Alur cerita disusun secara runtut, dengan konflik yang dekat dengan dunia anak, namun tetap menyimpan unsur misteri yang membangkitkan rasa penasaran pembaca. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, disertai sentuhan kosakata lokal yang kontekstual, menjadi nilai tambah tersendiri.
Saat menerima penghargaan, Hasanul Amri tampak berdiri di depan ruang acara dengan latar tulisan Balai Bahasa Provinsi Aceh – Pemenang Lomba Sayembara Menulis 2025. Dengan ekspresi haru dan bangga, ia menyampaikan rasa syukur atas apresiasi yang diberikan. Menurutnya, kemenangan ini merupakan bentuk pengakuan terhadap pentingnya cerita anak sebagai media pendidikan karakter dan pelestarian budaya lokal.
“Cerita anak bukan sekadar hiburan. Ia adalah jembatan untuk menanamkan nilai, membangun imajinasi, dan mengenalkan identitas budaya sejak dini,” ujar Hasanul Amri dalam sambutannya di hadapan hadirin.
Pihak Balai Bahasa Provinsi Aceh menyampaikan bahwa sayembara ini merupakan bagian dari program penguatan literasi nasional, khususnya dalam mendorong lahirnya karya-karya sastra anak yang bermutu dan berakar pada budaya daerah. Melalui kegiatan ini, Balai Bahasa berharap semakin banyak penulis yang terlibat aktif dalam menghasilkan bacaan anak yang edukatif, inspiratif, dan sesuai dengan perkembangan psikologis anak.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh dalam keterangannya menegaskan bahwa karya pemenang akan menjadi salah satu referensi penting dalam pengembangan bahan bacaan literasi anak. Selain itu, karya Toma Alek Kedang Misterius direncanakan untuk dipublikasikan dan diperkenalkan lebih luas kepada satuan pendidikan dan komunitas literasi di Aceh.
Keberhasilan Hasanul Amri meraih juara Sayembara Menulis Cerita Anak Tahun 2025 ini sekaligus menjadi bukti bahwa karya sastra anak berbasis lokal memiliki daya saing dan relevansi yang tinggi. Dari ruang Balai Bahasa Provinsi Aceh, kisah Toma Alek Kedang Misterius kini melangkah lebih jauh, menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya membaca dan kecintaan anak terhadap sastra serta kearifan lokal Indonesia.
