![]() |
| Hasanul Amri Gagas Seminar Mitigasi Smong Berbasis Modul Ajar dan Kearifan Lokal Simeulue |
SIMEULUE CUT – Seminar "Mitigasi Smong Berbasis Modul Ajar dan Kearifan Lokal Simeulue" yang diprakarsai oleh Hasanul Amri, S.Pd., M.Pd., Gr. berlangsung selama tiga hari, mulai 9 hingga 11 Juli 2026, di Kompleks Makam Tengku Diujung (Tengku Khalilullah), Desa Latak Ayah, Kecamatan Simeulue Cut, Kabupaten Simeulue.
Kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari Camat Simeulue Cut Fery Puput Hidayat, S.H., para kepala mukim, kepala desa, tokoh masyarakat, kepala sekolah, guru, hingga peserta didik tingkat SMP dan SMA dari sejumlah sekolah di Kabupaten Simeulue. Seminar ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat pemahaman mengenai nilai-nilai kearifan lokal Smong sebagai bagian dari budaya masyarakat Simeulue sekaligus sebagai media edukasi mitigasi bencana.
Ketua pelaksana seminar, Hasanul Amri, S.Pd., M.Pd., Gr., mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan mengembangkan modul ajar berbasis kearifan lokal agar dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran di sekolah.
Menurutnya, Smong merupakan pengetahuan lokal masyarakat Simeulue yang telah diwariskan secara turun-temurun dan terbukti memiliki peran penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana tsunami.
"Nilai-nilai Smong perlu terus diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan. Karena itu, kami mendorong penyusunan modul ajar yang mengintegrasikan sejarah, budaya, dan mitigasi bencana sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik," ujar Hasanul Amri.
Selama pelaksanaan seminar, peserta mengikuti berbagai materi yang mencakup sejarah Smong sebagai kearifan lokal masyarakat Simeulue, pengembangan modul ajar berbasis budaya lokal, penyusunan perangkat pembelajaran, diskusi kelompok, hingga simulasi implementasi materi mitigasi bencana dalam kegiatan belajar mengajar.
Camat Simeulue Cut, Fery Puput Hidayat, S.H., memberikan apresiasi atas terselenggaranya seminar tersebut. Ia menilai kegiatan ini merupakan salah satu langkah konkret dalam menghubungkan warisan budaya masyarakat Simeulue dengan dunia pendidikan.
"Smong merupakan bagian dari identitas masyarakat Simeulue yang harus terus dijaga. Melalui kegiatan seperti ini, nilai-nilai budaya lokal dapat diwariskan kepada generasi muda sekaligus memperkuat pendidikan kebencanaan di sekolah," katanya.
Hal senada disampaikan sejumlah kepala sekolah dan guru yang mengikuti seminar. Mereka menilai penyusunan modul ajar berbasis kearifan lokal dapat menjadi alternatif bahan pembelajaran yang lebih relevan dengan kondisi daerah, sekaligus memperkuat pendidikan karakter, kecintaan terhadap budaya daerah, dan kesadaran peserta didik terhadap mitigasi bencana.
Selain menjadi forum ilmiah, seminar juga memperkenalkan kembali Kompleks Makam Tengku Diujung (Tengku Khalilullah) sebagai salah satu situs bersejarah di Kabupaten Simeulue. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki nilai historis yang berkaitan dengan perkembangan Islam dan perjalanan sejarah masyarakat Simeulue, sehingga memberikan suasana pembelajaran yang lebih kontekstual.
Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Aceh melalui Program Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026. Program tersebut bertujuan mendukung pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan objek pemajuan kebudayaan sebagai sumber pengetahuan, pendidikan, serta penguatan identitas budaya masyarakat.
Melalui seminar ini diharapkan modul ajar yang disusun dapat diterapkan di sekolah-sekolah di Kabupaten Simeulue sebagai bahan pembelajaran berbasis kearifan lokal. Dengan demikian, nilai-nilai Smong tidak hanya tetap hidup sebagai tradisi lisan masyarakat, tetapi juga terdokumentasi dan terintegrasi dalam proses pendidikan formal sebagai upaya membangun generasi yang memahami sejarah daerah, mencintai budayanya, serta memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana.
.jpeg)
.jpeg)

